Tuesday, March 20, 2012

Kesehatan Mental


Dalam semester 4 di jurusan Psikologi ini saya mendapat mata kuliah Kesehatan Mental yang pengajarannya berupa softskill, serta dibimbing oleh Henny Regina Salve, MPsi, Psi. atau yang lebih dikenal dengan Kak Egi. Dalam pertemuan pertama, kami mendiskusikan apa itu kesehatan mental. Sehat? Tidak sakit secara fisik, pikiran dan jiwa. Mental? Psikis atau jiwa. Jadi, kesehatan mental adalah sehat secara psikis ataupun jiwa.

Berikut beberapa pengertian tentang kesehatan mental:
1.      Hadfield: ”upaya memeliharaan mental yang sehat dan mencegah agar mentak tidak sakit”. 
2.      Alexander Schneiders: ”suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis”. 
3.      Carl Witherington: ”ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sistem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat”.
4.      Zakiah Daradjat mendefenisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab menjadi mandiri dan mencapai integrasi tingkah laku.
5.      M. Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental mendefinisikan kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.
6.      Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

Kesehatan mental tertentang dari yang baik sampai dengan yang buruk, dan setiap orang akan mengalaminya. tidak sedikit orang, pada waktu-waktu tertentu mengalami masalah-masalah kesehatan mental selama rentang kehidupannya. Fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup harus dapat saling membantu dan bekerjasama satu sama lain sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).

Kategori atau Penggolongan Kesehatan Mental
1.Gangguan Somatofarm
Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organic dan factor-faktor psikologis.
2.Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.
3.Gangguan Psikoseksual
Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.
4.Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.
Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.
5.Gangguan kepribadian
Pola prilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.
6.Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja.
Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.
7.Gangguan jiwa organik
Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.
8.Gangguan penggunaan zat-zat
Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.
9.Gangguan Skisofrenik
Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan prilaku kacau dan aneh.
10.Gangguan Paranoid
Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.
11.Gangguan Afektif
Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.
12.Gangguan Kecemasan
Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.


Konsep sehat beserta dimensinya

Sehat adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak memiliki keluhan-keluhan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk adalah orang yang sehat dan sebagainya”. Jadi factor subyektifitas dan cultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengembangkan defenisi tentang sehat. Pada sebuah publikasi WHO tahun 1957, konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan Sehat adalah keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi secara bergantian dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit. Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari. Terjadi sepanjang sejarah manusia. Dikenal oleh semua kebudayaan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep sehat, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.
Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal dari sisi biologis, psikologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada. Dalam kaitan dengan konsepsi WHO tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi holistik, yaitu agama, organo-biologik, psiko-edukatif dan sosial-budaya. Keempat dimensi holistik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.Agama/spiritual, yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs), mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).
b.Organo-biologik, mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan seterusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut.
c.Psiko-edukatif, adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.
d.Sosial-budaya, selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Sejarah kesehatan mental diawali oleh pendirian rumah sakit mental pertama di AS tepatnya di Williamsburg, Virginia pada tahun 1773. Setelah itu Dorothe Dix seorang pionir wanita yang berusaha berjuang untuk merawat  dan menyembuhkan penderita penyakit gila dan gannguan mental. Dengan jasa-jasanya yang begitu banyak ia mengembangkan 32 rumah sakit di Amerika Serikat pada tahun 1840. Selain Dix, ada salah satu tokoh lagi yang cukup berjasa dalam kesehatan mental ini. Dialah Clifford Beers, ia pernah mengalami sakit mental dan diperlakukan buruk karena penyakitnya tersebut. Beers mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan dalam rumah sakit tersebut. ia sering mendapat pukulan-pukulan ataupun hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Setelah dua tahun dirawat, Beers pun sembuh. Pada tahun 1900, ia menjalankan aksi gerakan kesehatan mental dengan menerbitkan buku yang berjudul  "A Mind That Found itself". Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
  1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
  2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
  3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
  4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
          Pada tahun 1930 Public Healt Service (PHS) dari US membentuk divisi narkotika,yang dinamakan divisi mental kebersihan. Mereka bertujuan untuk menyatukan dan mengobati serta memerangi kecanduan narkoba dan studi tentang prevelensi, penyebab, dan cara mencegah dan mengobati gugup dan penyakit mental. Tahun 1952 ditemukan pertama kali obat psikotropika yaitu Klorpromazin (Thorazine). berfungsi untuk memperbaiki kondisi konsumen dengan psikosis dan delusi. Di banak kasus, Thorazine meringankan gejala halusinasi, agitasi delusi dan gangguan pikiran.
         Beberapa tahun setelah itu tepatnya 1988, konsep kesehatan perilaku dikelola dari teori ke praktek. Massachusetts adalah negara bagian pertama yang memanfaatkan platform manage care sebagai kebutuhan kesehatan perilaku. Platform manage care didasarkan pada efisiensi dan efeksivitas dan berusaha mengambil keuntungan dari teknologi yang bermunculan.
           Akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene dan Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.


Bagaimana pribadi seseorang dapat berkembang?

A. Sigmund Freud
Pandangan Freud terhadap psikologi khususnya berkenaan dengan kepribadian manusia lebih didasarkan pada ketidaksadaran dibandingkan dengan keadaan sadar atau unsur-unsur kesadaran seperti para psikolog di abad ke-XIX. Freud menganggap bahwa kesadaran hanya merupakan sebagian kecil saja dari pada seluruh kehidupan psikis. Freud memisalkan psiche itu sebagai gunung es di tengah lautan, yang ada diatas permukaan air laut itu menggambarkan kesadaran ‘conscious’, sedangkan di bawah permukaan air laut yang merupakan bagian terbesar menggambarkan ketidaksadaran ‘unconscious’. Dalam ketidaksadaran itulah terdapat kekuatan-kekuatan dasar yang mendorong pribadi (Suryabrata, 2002).
Freud juga menganggap kepribadian sebagai produk dari masa kanak-kanak manusia. Dalam aspek-aspek perkembangan kepribadian, Freud menekankan peranan yang menentukan dari tahun-tahun awal masa bayi dan kanak-kanak dalam meletakkan struktur watak dasar sang pribadi. Bagi Freud, kepribadian itu telah cukup terbentuk pada akhir tahun kelima, dan bahwa perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penggabungan terhadap struktur dasar itu (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).

A. Struktur Kepribadian
Freud (dalam Hall and Lindzey, 1993) membagi struktur kepribadian ke dalam tiga sistem pokok, yakni: id, ego, dan superego. Meskipun masing-masing bagian dari kepribadian total ini mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamisme, dan mekanismenya sendiri, namun mereka berinteraksi begitu erat satu sama lain sehingga sulit (tingkah laku hampir merupakan tidak mungkin) untuk memisah-misahkan pengaruhnya dan menilai sumbangan relatifnya terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku hampir selalu merupakan produk dari interaksi diantara ketiga sistem tersebut; jarang salah satu sistem berjalan terlepas dari kedua sistem lainnya.
1. Id (The Id atau Das Es) disebut juga oleh Freud sebagai System der Unbewussten, merupakan sistem kepribadian yang asli dalam kepribadian (Freud dalam Suryabrata, 2002). Id merupakan lapisan psikis yang paling mendasar dan merupakan kawasan dimana Eros dan Thanatos berkuasa. Disitu terdapat naluri bawaan, yakni seksual dan agresif, serta keinginan yang direpresi (Freud dalam Bertens, 2006). Id juga merupakan rahim tempat ego dan super ego berkembang. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir termasuk insting-insting. Id merupakan reservoir energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menjalankan kedua sistem yang lain. Id berhubungan erat dengan proses-proses jasmaniah dari mana id mendapatkan energinya. Freud juga menyebut id sebagai kenyataan psikis yang sebenarnya, karena id merepresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993). Id tidak bisa menanggulangi peningkatan energi yang dialaminya sebagai keadaan-keadaan tegangan yang tidak menyenangkan. Karena itu, apabila tingkat tegangan organisme meningkat, entah sebagai akibat stimulasi dari luar atau rangsangan-rangsangan yang timbul dari dalam maka id akan bekerja sedemikian rupa untuk segera menghentikan tegangan dan mengembalikan organisme pada tingkat energi rendah dan konstan serta menyenangkan. Prinsip reduksi tegangan yang merupakan ciri kerja id ini disebut prinsip kenikmatan atau pleasure principle (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).
Untuk melaksanakan tugas menghindari rasa sakit dan mendapatkan kenikmatan, id memiliki dua proses. Kedua proses tersebut adalah tindakan refleks dan proses primer. Tindakan-tindakan refleks adalah reaksi-reaksi otomatatik dan bawaan seperti bersin dan berkedip, dan tindakan-tindakan refleks tersebut biasanya segera mereduksikan tegangan. Organisme dilengkapi dengan sejumlah refleks semacam itu untuk menghadapi bentuk-bentuk rangsangan yang relatif sederhana. Sedangkan proses primer menyangkut suatu reaksi psikologis yang sedikit lebih rumit. Ia berusaha menghentikan tegangan dengan membentuk khayalan tentang objek yang dapat menghilangkan tegangan tersebut. Misalnya, proses primer menyediakan khayalan tentang makanan kepada orang yang lapar. Pengalaman halusinatorik dimana objek-objek yang diinginkan ini hadir dalam bentuk gambaran dan ingatan yang disebut dengan pemenuhan hasrat (wish-fulfillment). Contoh proses primer yang paling baik pada orang normal ialah mimpi di malam hari, yang diyakini oleh Freud selalu mengungkapkan pemenuhan atau usaha pemenuhan suatu hasrat. Halusinasi dan penglihatan pasien psikotik atau angan-angan sangat di warnai oleh pengaruh proses primer ini.
Gambaran-gambaran mentah yang bersifat memenuhi hasrat ini merupakan satu-satunya kenyataan yang dikenal id (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).
Jelas, proses primer sendiri tidak akan mampu mereduksikan tegangan. Orang yang lapar misalnya, ia tidak dapat memakan khayalannya tentang makanan. Karena itu, suatu proses psikologis baru atau sekunder berkembang, dan apabila hal ini terjadi maka struktur sistem kedua kepribadian, yaitu ego, mulai terbentuk (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).
2. Ego (The Ego atau Das Ich) di sebut juga System der Beweussten-Vorbewussten. Aspek ini adalah aspek psikologis dari kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan objektif (Freud dalam Suryabrata, 2002). Menurut Freud (dalam Bertens, 2006), ego terbentuk dengan diferensiasi dari Id karena kontaknya dengan dunia luar. Aktifitas ego bersifat sadar, prasadar, maupun tak sadar, namun sebagaian besar ego bersifat sadar, seperti persepsi lahiriah, persepsi batin, dan proses-proses intelektual. Sedangkan dalam aktifitas prasadar seperti fungsi ingatan, dan aktifitas tentang tak sadar ego dijalankan dengan mekanisme-mekanisme pertahanan (defence mechanisms).
Ego dikatakan mengikuti prinsip kenyataan atau prinsip realitas (Realitatsprinzip, atau The Reality Principle), dan bereaksi mengikuti prinsip sekunder (Sekundar Vorgang atau Secondary Prosess). Tujuan prinsip kenyataan atau realitas adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Untuk sementara prinsip kenyatan atau realitas menunda prinsip kenikmatan, Meskipun prinsip kenikmatan akhirnya terpenuhi ketika objek yang dibutuhkan ditemukan dengan demikian tegangan direduksikan (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993 dan Suryabrata, 2002).
Proses sekunder adalah berfikir realistik, dengan proses sekunder, ego menyusun rencana untuk memuaskan kebutuhan dan kemudian menguji rencana ini, biasanya melalui suatu tindakan, untuk melihat apakah rencana itu berhasil atau tidak. Orang yang lapar berfikir dimana ia dapat menemukan makanan dan kemudian ia pergi ke tempat itu. Ini disebut dengan pengujian terhadap kenyataan (reality testing). Untuk melakukan peranannya secara efisien, ego mengontrol semua fungsi kognitif dan intelektual; proses-proses jiwa ini dipakai untuk melayani proses sekunder (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).
Ego disebut juga eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol jalan-jalan yang ditempuh untuk memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya, serta memilih objek-objek yang dapat memenuhi kebutuhan; didalam menjalankan fungsinya ini seringkali ego harus mempersatukan pertentangan-pertentangan antara id dan superego dan dunia luar. (Freud dalam Suryabrata, 2002).
Namun harus diingat ego merupakan bagian id yang terorganisasi yang hadir untuk memajukan tujuan-tujuan id dan bukan untuk mengecewakannya, dan bahwa seluruh dayanya berasal dari id. Ego tidak terpisah dari id dan tidak pernah bebas sama sekali dari id. Peran utamanya adalah menengahi kebutuhan-kebutuhan instingtif dari organisme dan kebutuhan-kebutuhan lingkungan sekitarnya, dimana tujuan-tujuannya yang sangat penting adalah mempertahankan kehidupan individu dan memperhatikan bahwa spesies dikembangbiakkan (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).
3. Superego (The Superego atau Dus Ueber Ich) adalah aspek sosiologi kepribadian, yakni merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana diterangkan orangtua kepada anak-anaknya, dan dilaksanakan dengan cara perintah dan larangan dan dengan memberikannya hadiah-hadiah atau hukuman-hukuman (Freud dalam Suryabrata, 2002 dan Hall and Lindzey, 1993). Dengan kata lain, superego adalah buah hasil internalisasi, sejauh larangan-larangan dan perintah-perintah yang tadinya merupakan sesuatu yang asing bagi anak akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari anak sendiri (Freud dalam Bertens, 2006). Superego adalah wewenang moral dari kepribadian, superego mencerminkan yang ideal dan bukan yang real, serta memperjuangkan kesempurnaan dan bukan kenikmatan. Perhatian yang utamanya adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah dengan demikian superego dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oleh wakil-wakil masyarkat (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).
Superego sebagai wasit tingkah laku yang diinternalisasikan bekembang dengan memberikan respon terhadap hadiah-hadiah dan hukuman-hukuman yang diberikan orangtua. Untuk memperoleh hadiah-hadiah dan menghindari hukuman-hukuman, anak belajar mengarahkan tingkah lakunya menurut garis-garis yang diletakkan orang tuanya. Apapun juga yang mereka katakan salah dan menghukum anak karena melakukannya akan cenderung menjadi suara hatinya (Conscience), yang merupakan salah satu dari dua subsistem superego. Apapun juga yang mereka setujui dan menghadiahi anak karena melakukannya, akan cenderung menjadi ego-ideal anak, yang merupakan subsistem lain dari superego. Mekanisme yang menyebabkan penyatuan tersebut disebut introyeksi. Anak menerima atau mengintroyeksikan norma-norma moral dari orang tua. Suara hati menghukum orang dengan membuatnya merasa salah, ego-ideal menghadiahi orang dengan membuatnya merasa bangga. Dengan terbentuknya superego ini maka kontrol diri menggantikan kontrol orang tua (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).
Jadi, aktifitas dari superego menyatakan diri dalam konflik dengan ego yang dirasakan dengan emosi-emosi seperti rasa bersalah, rasa menyesal, dan lain sebagainya. Sikap-sikap seperti observasi diri, kritik diri, dan inhibisi berasal dari superego. Bahkan menurut Freud, kompleks oedipus memainkan peranan besar dalam pembentukan superego (Freud dalam Bertens, 2006).
Fungsi-fungsi dari superego adalah; (1) merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif, karena inilah impuls-impuls yang pernyataannya sangat dikutuk oleh masyarakat, (2) mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistis dengan tujuan-tujuan moralistis, (3) mengajarkan kesempurnaan. Jadi, superego cenderung untuk menentang baik id maupun ego, dan membuat dunia menurut gambarannya sendiri. Akan tetapi superego sama seperti id bersifat tidak rasional dan sama seperti ego, superego melaksanakan kontrol atas insting-insting. Tidak seperti ego, superego tidak hanya menunda pemuasan insting, akan tetapi superego tetap berusaha untuk merintanginya (Freud dalam Hall and Lindzey, 1993).

Mengakhiri deskripsi singkat tentang tiga sistem kepribadian ini, perlu diingat bahwa struktur kepribadian yakni id, ego, dan superego, bukanlah bagian-bagian yang menjalankan kepribadian, melainkan merupakan sebuah nama dari sistem struktur dan proses psikologis yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Biasanya sistem-sistem itu bekerja bersama sebagai tim yang menyatu, dibawah arahan ego. Kepribadian biasanya berfungsi sebagai suatu kesatuan dan bukan sebagai tiga bagian yang terpisah. Secara sangat umum id bisa dipanang sebagai komponen biologis kepribadian, sedangkan ego sebagai komponen psikologis dan superego sebagai komponen sosialnya (Freud dalam Alwisol, 2008 dan Hall and Lindzey, 1993).

B. Erick H. Erikson
Erik Erikson adalah seorang psikolog yang merumuskan teori tahap-tahap perkembangan kepribadian manusia sesuai siklus hidupnya. Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Erikson memperhatikan pemikiran psikoanalisa dari Sigmund Freud dan pendekatan antropologi budaya yang dikembangkan oleh Margaret Mead dan Franz Boas. Menurut Erikson anak-anak dalam setiap sistem budaya akan belajar nilai yang berbeda, tujuan yang berbeda, serta beragam pengasuhan. Pengaruh ini membentuk bagaimana jiwa anak berkembang. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.
Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia. Teori itu juga diaplikasikan langsung baik pada perempuan maupun laki-laki. Sayangnya penerapan semacam ini sebenarnya merupakan suatu kesalahan metodologis. Bila kita berbicara mengenai masalah generalisasi teori, maka teori Erikson seharusnya tidak digeneralisasikan secara universal. Apalagi menyangkut permasalahan jenis kelamin, sangat tidak tepat jika kasus perempuan dibahas dengan menggunakan teori Erikson.
Sebagian besar tahapan perkembangan yang dikemukakan Erikson merupakan hipotesis belaka. Hanya perkembangan masa kanak-kanak dan remaja yang didasarkan Erikson pada hasil penelitiannya. Mengenai tahapan perkembangan masa kanak-kanak, ia melakukan observasi terhadap anak-anak suku Sioux dan Yurok. Sedangkan mengenai remaja, ia melakukan analisis terhadap kehidupan tiga remaja putra. Dari observasi dan analisis itulah ia mengemukakan teorinya mengenai delapan tahap perkembangan manusia dari lahir hingga lanjut usia, dalam buku pertamanya yang berjudul Childhood and Society pada tahun 1964.
Gagasan Erikson mengenai delapan tahap perkembangan manusia yang ditulisnya dalam buku tersebut banyak menerima kritik. 
Proses perkembangan kepribadian menurut Erik Erikson adalah sebuah proses yang berlangsung sejak masa bayi hingga usia lanjut. Proses perkembangan kepribadian tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (dorongan dari dalam diri) tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial yang ada dilingkungan dimana individu tumbuh dan berkembang.
Menurut Erikson, dalam alih bahasa Fransiska dkk. 2008, kepribadian (terutama focus Erikson pada identitas) berkembang melalui 8 tahap yang saling berurutan sepanjang hidup.
Tahapan-tahapan yang dikemukakan oleh Erikson ini menggunakan tahapan perkembangan psikoseksual Freud sebagai dasar teorinya, hal ini terlihat dari lima tahapan pertama yang Erikson ajukan memperlihatkan krisis ego yang sama dengan tahapan psikoanalitik Freud.
Dalam setiap tahapan, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan

 
Tahap-tahap perkembangan kepribadian menurut Erikson: 

Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
  • Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan
  • Tingkat pertama teori perkembangan psikososial Erikson terjadi antara kelahiran sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup.
  • Oleh karena bayi sangat bergantung, perkembangan kepercayaan didasarkan pada ketergantungan dan kualitas dari pengasuh kepada anak.
  • Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau menolak, dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak yang di asuh. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di tebak.
Tahap 2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and doubt)
· Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun
  • Tingkat ke dua dari teori perkembangan psikososial Erikson ini terjadi selama masa awal kanak-kanak dan berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri.
  • Seperti Freud, Erikson percaya bahwa latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting sekali dalam proses ini. Tetapi, alasan Erikson cukup berbeda dari Freud. Erikson percaya bahwa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh seseorang akan membawa kepada perasaan mengendalikan dan kemandirian.
  • Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian.
  • Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.
Tahap 3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)
  • Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun.
  • Selama masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya. Mereka lebih tertantang karena menghadapi dunia sosial yang lebih luas, maka dituntut perilaku aktif dan bertujuan.
  • Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung jawab dan prakarsa.
  • Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul apabila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas.
  • Erikson yakin bahwa kebanyakan rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat oleh rasa berhasil.
Tahap 4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)
  • Terjadi pada usia 6 s/d pubertas.
  • Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka.
  • Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru membangun peasaan kompeten dan percaya dengan ketrampilan yang dimilikinya.
  • Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuannya untuk berhasil.
  • Prakarsa yang dicapai sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat dengan pengalaman-pengalaman baru.
  • Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual.
  • Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah diri, perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif.
  • Erikson yakin bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak.
Tahap 5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)
  • Terjadi pada masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun
  • Selama remaja ia mengekplorasi kemandirian dan membangun kepakaan dirinya.
  • Anak dihadapkan dengan penemuan siapa mereka, bagaimana mereka nantinya, dan kemana mereka menuju dalam kehidupannya (menuju tahap kedewasaan).
  • Anak dihadapkan memiliki banyak peran baru dan status sebagai orang dewasa –pekerjaan dan romantisme, misalnya, orangtua harus mengizinkan remaja menjelajahi banyak peran dan jalan yang berbeda dalam suatu peran khusus.
  • Jika remaja menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang sehat dan positif untuk diikuti dalam kehidupan, identitas positif akan dicapai.
  • Jika suatu identitas remaja ditolak oleh orangtua, jika remaja tidak secara memadai menjajaki banyak peran, jika jalan masa depan positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.
  • Namun bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan control dirinya akan muncul dalam tahap ini.
  • Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhadap diri dan masa depannya.
Tahap 6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)
  • Terjadi selama masa dewasa awal (20an s/d 30an tahun)
  • Erikson percaya tahap ini penting, yaitu tahap seseorang membangun hubungan yang dekat dan siap berkomitmen dengan orang lain.
  • Mereka yang berhasil di tahap ini, akan mengembangkan hubungan yang komit dan aman.
  • Erikson percaya bahwa identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan yang intim. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sedikit kepakaan diri cenderung memiliki kekurangan komitemen dalam menjalin suatu hubungan dan lebih sering terisolasi secara emosional, kesendirian dan depresi.
  • Jika mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang.
Tahap 7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)
  • Terjadi selama masa pertengahan dewasa (40an s/d 50an tahun).
  • Selama masa ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya berfokus terhadap karir dan keluarga.
  • Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa mereka berkontribusi terhadap dunia dengan partisipasinya di dalam rumah serta komunitas.
  • Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.
Tahap 8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)
  • Terjadi selama masa akhir dewasa (60an tahun)
  • Selama fase ini cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu.
  • Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hidupnya percuma dan mengalami banyak penyesalan.
  • Individu akan merasa kepahitan hidup dan putus asa
  • Mereka yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami.
  • Individu ini akan mencapai kebijaksaan, meskipun saat menghadapi kematian.



Kepribadian Sehat

Kesehatan mental merupakan faktor terpenting untuk menjalankan kehidupan manusia secara normal. Psikis manusia jika tidak dijaga akan menimbulkan suatu gangguan jiwa yang lambat laun bila dibiarkan akan menjadi suatu beban yang berat bagi penderitanya.
Individu yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi pengembangan kualitas dirinya. pemanfaatan itu seperti dalam kegiatan-kegiatan belajar (dirumah, sekolah atau dilingkungan masyarakat), bekerja, berorganisasi, pengembangan hobi, dan berolahraga.
Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya terhadap situasi dalam memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang positif bagi dirinya dan atau orang lain. dia mempunyai prinsip bahwa tidak mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirnya sendiri di atas kerugian orang lain. Segala aktivitasnya di tujukan untuk mencapai kebahagiaan bersama.
Karakteristik pribadi yang sehat mentalnya juga dijelaskan pada tabel sebagai berikut (Syamsu Yusuf LN ; 1987).

ASPEK PRIBADI
KARAKTERISTIK
Fisik
Perkembangannya normal.
Berfungsi untuk melakukan tugas-tugasnya.
Sehat, tidak sakit-sakitan.
Psikis
Respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
Memiliki Insight dan rasa humor.
Memiliki respons emosional yang wajar.
Mampu berpikir realistik dan objektif.
Terhindar dari gangguan-gangguan psikologis.
Bersifat kreatif dan inovatif.
Bersifat terbuka dan fleksibel, tidak difensif.
Memiliki perasaan bebas untuk memilih, menyatakan pendapat dan bertindak.
Sosial
Memiliki perasaan empati dan rasa kasih sayang (affection) terhadap orang lain, serta senang untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan (sikap alturis).
Mampu berhubungan dengan orang lain secara sehat, penuh cinta kasih dan persahabatan.
Bersifat toleran dan mau menerima tanpa memandang kelas sosial, tingkat pendidikan, politik, agama, suku, ras, atau warna kulit.
Moral-Religius
Beriman kepada Allah, dan taat mengamalkan ajaran-Nya.
Jujur, amanah (bertanggung jawab), dan ikhlas dalam beramal.

Uraian diatas, menunjukan ciri-ciri mental yang sehat, sedangkan yang tidak sehat cirinya sebagai berikut :
  1. Perasaan tidak nyaman (inadequacy) 
  2. Perasaan tidak aman (insecurity) 
  3. Kurang memiliki rasa percaya diri (self-confidence) 
  4. Kurang memahami diri (self-understanding) 
  5. Kurang mendapat kepuasan dalam berhubungan sosial 
  6. Ketidakmatangan emosi 
  7. Kepribadiannya terganggu 
  8. Mengalami patologi dalam struktur sistem syaraf (thorpe, dalam schneiders, 1964;61).





Daftar Pustaka:
-Syamsu, Yusuf. 2009. Mental Hygiene. Bandung: Maestro
-Brennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sarlito.
-Moeljono, Notosoedirdjo. 2002. Kesehatan Mental; Konsep dan Penerapan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
-Dr. Kartini Kartono. 1989. Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam. Bandung: CV. Mandar Maju
-Sarlito, Wirawan Sarwono. 1986. Pengantar Umum Psikologi. Bandung: PT. Bulan Bintang.
-Moeljono Notosoedirjo, Latipun. 2000. Kesehatan Mental. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang

-Paludi, Michele A. 1998. The Psychology of Women. USA : Prentice-Hall, Inc.
-Williams, Juanita H. 1987. Psychology of Women. Behavior in a Biosocial Context. 3rd ed. USA : W.W. Norton & Company, Inc.
-Duane, Schultz. 2008. Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Kanusius
-Papalia, E. Diane. Olds, Wendkos Sally. Feldman, Duskinj Ruth. 2009. Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.
-Hall, S. Calvin. Lindzey, Gardener. 2004. Teori-Teori Psikodiagnostik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.
-Kholil, Rochman Lur. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: Fajar Media Press.
-Baihaqi, MIF. 2008. Psikologi Pertumbuhan, Kepribadian Sehat Untuk Mengembangkan Optimisme. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
-A. Wiramiharja, Sutardjo. 2010. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika Aditama.

Kesehatan Mental

Dalam semester 4 di jurusan Psikologi ini saya mendapat mata kuliah Kesehatan Mental yang pengajarannya berupa softskill, serta dibimbing oleh Henny Regina Salve, MPsi, Psi. atau yang lebih dikenal dengan Kak Egi. Dalam pertemuan pertama, kami mendiskusikan apa itu kesehatan mental. Sehat? Tidak sakit secara fisik, pikiran dan jiwa. Mental? Psikis atau jiwa. Jadi, kesehatan mental adalah sehat secara psikis ataupun jiwa.

Berikut beberapa pengertian tentang kesehatan mental:
1.      Hadfield: ”upaya memeliharaan mental yang sehat dan mencegah agar mentak tidak sakit”. 
2.      Alexander Schneiders: ”suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis”. 
3.      Carl Witherington: ”ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sistem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat”.
4.      Zakiah Daradjat mendefenisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab menjadi mandiri dan mencapai integrasi tingkah laku.
5.      M. Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental mendefinisikan kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.
6.      Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

Kesehatan mental tertentang dari yang baik sampai dengan yang buruk, dan setiap orang akan mengalaminya. tidak sedikit orang, pada waktu-waktu tertentu mengalami masalah-masalah kesehatan mental selama rentang kehidupannya. Fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup harus dapat saling membantu dan bekerjasama satu sama lain sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).

Kategori atau Penggolongan Kesehatan Mental
1.Gangguan Somatofarm
Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organic dan factor-faktor psikologis.
2.Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.
3.Gangguan Psikoseksual
Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.
4.Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.
Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.
5.Gangguan kepribadian
Pola prilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.
6.Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja.
Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.
7.Gangguan jiwa organik
Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.
8.Gangguan penggunaan zat-zat
Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.
9.Gangguan Skisofrenik
Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan prilaku kacau dan aneh.
10.Gangguan Paranoid
Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.
11.Gangguan Afektif
Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.
12.Gangguan Kecemasan
Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.


Konsep sehat beserta dimensinya

Sehat adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak memiliki keluhan-keluhan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk adalah orang yang sehat dan sebagainya”. Jadi factor subyektifitas dan cultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengembangkan defenisi tentang sehat. Pada sebuah publikasi WHO tahun 1957, konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan Sehat adalah keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi secara bergantian dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit. Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari. Terjadi sepanjang sejarah manusia. Dikenal oleh semua kebudayaan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep sehat, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.
Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal dari sisi biologis, psikologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada. Dalam kaitan dengan konsepsi WHO tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi holistik, yaitu agama, organo-biologik, psiko-edukatif dan sosial-budaya. Keempat dimensi holistik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.Agama/spiritual, yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs), mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).
b.Organo-biologik, mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan seterusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut.
c.Psiko-edukatif, adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.
d.Sosial-budaya, selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
 
Sejarah kesehatan mental diawali oleh pendirian rumah sakit mental pertama di AS tepatnya di Williamsburg, Virginia pada tahun 1773. Setelah itu Dorothe Dix seorang pionir wanita yang berusaha berjuang untuk merawat  dan menyembuhkan penderita penyakit gila dan gannguan mental. Dengan jasa-jasanya yang begitu banyak ia mengembangkan 32 rumah sakit di Amerika Serikat pada tahun 1840. Selain Dix, ada salah satu tokoh lagi yang cukup berjasa dalam kesehatan mental ini. Dialah Clifford Beers, ia pernah mengalami sakit mental dan diperlakukan buruk karena penyakitnya tersebut. Beers mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan dalam rumah sakit tersebut. ia sering mendapat pukulan-pukulan ataupun hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Setelah dua tahun dirawat, Beers pun sembuh. Pada tahun 1900, ia menjalankan aksi gerakan kesehatan mental dengan menerbitkan buku yang berjudul  "A Mind That Found itself". Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
  1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
  2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
  3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
  4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
          Pada tahun 1930 Public Healt Service (PHS) dari US membentuk divisi narkotika,yang dinamakan divisi mental kebersihan. Mereka bertujuan untuk menyatukan dan mengobati serta memerangi kecanduan narkoba dan studi tentang prevelensi, penyebab, dan cara mencegah dan mengobati gugup dan penyakit mental. Tahun 1952 ditemukan pertama kali obat psikotropika yaitu Klorpromazin (Thorazine). berfungsi untuk memperbaiki kondisi konsumen dengan psikosis dan delusi. Di banak kasus, Thorazine meringankan gejala halusinasi, agitasi delusi dan gangguan pikiran.
         Beberapa tahun setelah itu tepatnya 1988, konsep kesehatan perilaku dikelola dari teori ke praktek. Massachusetts adalah negara bagian pertama yang memanfaatkan platform manage care sebagai kebutuhan kesehatan perilaku. Platform manage care didasarkan pada efisiensi dan efeksivitas dan berusaha mengambil keuntungan dari teknologi yang bermunculan.
           Akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene dan Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.





Daftar Pustaka:
-Syamsu, Yusuf. 2009. Mental Hygiene. Bandung: Maestro
-Brennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sarlito.
-Moeljono, Notosoedirdjo. 2002. Kesehatan Mental; Konsep dan Penerapan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
-Dr. Kartini Kartono. 1989. Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam. Bandung: CV. Mandar Maju
-Sarlito, Wirawan Sarwono. 1986. Pengantar Umum Psikologi. Bandung: PT. Bulan Bintang.
-Moeljono Notosoedirjo, Latipun. 2000. Kesehatan Mental. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang


Wednesday, December 28, 2011

Pengaruh Film terhadap Pembentukan Watak

  Dalam penulisan ini saya akan mengulas jurnal yang berjudul "Pengaruh Film terhadap Pembentukan Watak (The Effect of Movie on Attitude)" yang ditulis oleh Conny R. Semiawan, penerapan pembelajaran pada anak. Dan akan diterangkan dampak positif dan dampak negatif kemajuan teknologi sekarang ini bagi kehidupan remaja.

         Sebagai media, film berfungsi mewujudkan komunikasi yang mencakup berbagai fase dalam kegiatan kehidupan. Media ini merupakan landasan pengertian dengan tujuan mempengaruhi penerima pesan/ penonton untuk bertindak sesuai dengan tujuan dari komunikasi tersebut. Berkenaan dengan pengaruh film pendidikan sebagai media yang membentuk watak (The Effect of Movie on Attitude) dan pribadi, maka perlu ditinjau substansi film terutama dari berbagai pesan atau maksud yang dikandungnya.
         Dalam kaitannya dengan perkembangan psikologis seseorang, maka kita ketahui bahwa watak merupakan resultante dari potensi kebaikan dan ketidakbaikan seseorang yang dibawanya sejak lahir dengan pengaruh-pengaruh lingkungan dalam pembentukannya. Pada usia muda kemenurutan anak sangat ditentukan oleh idolanya yang kemungkinan akan selalu dicontohnya, tanpa mempertimbangkan apakah itu baik atau tidak. Menurutnya yang dikenakan oleh idolanya bagus, keren, canggih dan sebagainya menurut pandangan seorang anak.
         Dalam pertumbuhan seorang anak, setiap tindakannya terkait dengan kecenderungan dan kemauan serta kehidupan emosional yang bersentuhan dengan faktor eksogen (lingkungan) yang sifatnya amat kompleks dan bervariasi. Salah satu faktor eksogen yang paling berpengaruh terhadap pmbentukan watak dan pribadi seseorang adalah media yang berbentuk bacaan atau film. Berbagai nilai estetis, moral, sosial, kultural, maupun teoritis melalui media tersebut sangat mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung bagi seluruh perkembangan watak pribadi anak pada usia 8 tahun samapai dengan 18 tahun memiliki kepekaan terhadap pengaruh eksogen tersebut.
         Dengan demikian, dalam hal ini diperlukan perhatian dari pihak terkait terutama orang tua agar bisa lebih selektif dalam memilih setiap bacaan ataupun tontonan film yang baik serta mendidik bagi anak sehingga bisa memberikan pesan positif yang bisa berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pembentukan watak dan pribadi seorang anak, tentunya ini diharapkan agar tidak menimbulkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

Pengaruh positif
Banyaknya teknologi dan segala fasilitas yang ada, ternyata memiliki dampak positif tersendiri bagi kehidupan anak remaja. Berikut adalah beberapa pengaruh teknologi terhadap kehidupan remaja dalam hal yang positif:
1. Membantu pendidikan
untuk beberapa teknologi, misalnya internet, memiliki pengaruh yang cukup positif terhadap perkembangan pendidikan remaja. Internet bisa menyuguhkan berbagai informasi pendidikan yang dibutuhkan oleh remaja sekolah.
Contoh lainnya adalah handphone (HP). Sebagai alat komunikasi, handphone tentu memiliki dampak positif terhadap pendidikan, karena bisa membuat para pelajar berkomunikasi lebih mudah tentang pelajaran dengan teman atau bahkan para guru.
2. Membantu pergaulan
Dalam kehidupan remaja, pergaulan adalah hal yang cukup penting untuk membangun kepribadiannya. Dengan kemajuan teknologi saat ini, pergaulan anak remaja bisa semakin meningkat.
Sebut saja handphone atau jejaring sosial di internet. Dengan adanya dua teknologi itu saja, sosialisasi remaja bisa meningkat dan tentunya berkembang ke arah yang lebih baik.

Pengaruh negatif
Teknologi manusia memang diciptakan untuk memudahkan kehidupan, termasuk kehidupan remaja. Namun, remaja hanyalah anak muda yang kadang sulit mengontrol diri dan akhirnya terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Berikut adalah contohnya:
1. Adanya teknologi hiburan seperti televisi, perlengkapan game, atau internet, bisa membuat remaja lupa waktu untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, misalnya belajar atau beribadah.
2. Anak remaja adalah anak yang mudah terpengaruh. Ketika dia menyerap suatu informasi, ia mungkin akan menerapkannya. Bagaimana bila informasi tersebut adalah info yang negatif??
Misalnya, banyaknya situs porno di internet, hal ini tentu saja buruk bagi para remaja. Atau acara-acara di televisi yang kadang tak layak ditonton para remaja, atau film yang ditayangkan di bioskop yang belum di sensor (film barat), misalnya kekerasan, berita kriminal, acara gosip (infotainment), dll.
3. Teknologi memang bisa memperluas sosialisasi, namun bila tidak digunakan dengan benar, akibatnya malah sebaliknya. Tidak sedikit remaja yang lebih suka mengurung diri di kamar atau menyendiri hanya untuk menikmati suatu teknologi, misalnya internet, handphone (HP), play station yang sangat digemari saat ini.

         Itulah beberapa contoh dampak teknologi terhadap kehidupan remaja kita saat ini. Sebaiknya teknologi memang harus digunakan sebagaimana mestinya, agar kehidupan menjadi lebih baik dan bukan memperburuk kehidupan remaja.


Referensi: 
http://episentrum.com/search/jurnal-pengaruh-internet-terhadap-kehidupan-sosial-bagi-remaja.html/
http://www.anneahira.com/kehidupan-remaja-13363.htm

Sunday, November 27, 2011

Kegunaan Internet di Bidang Psikologi

             Internet adalah satu teknologi yang mutakhir di zaman ini yang terdapat pada komputer. Dengan adanya internet, sekarang kita dapat memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan mudah,praktis, dan cepat. Banyak sarana di dalam internet yang memudahkan kita dalam melakukan kegiatan komunikasi. Di samping itu internet juga dapat menjadi sarana curhat bagi konsumen yang membutuhkan. Sudah banyak kita temukan para psikolog membuka sarana sesi curhat di blognya ataupun membuka situs-situs khusus sendiri. Dengan kecanggihan internet ini konsumen tidak usah repot-repot lagi mendatangi tempat praktek psikolog tersebut, ya walaupun mungkin agak kurang nyaman karena masalah yang kita hadapi akan dibagikan dan dibaca oleh orang lain. Selain itu kelemahan yang kita dapat bila curhat di internet adalah jawaban yang diberikan memang agak lama.

Contoh situs curhat di internet seperti:
1.  e-psikologi.com.

Tampilan seperti inilah yang awalnya akan muncul ketika kita membuka situs www.e-psikologi.com
Di situs ini ada kuis yang membahas tentang pemikiran logika, adapula topik-topik yang anda perlukan dalam psikologi, selain itu disuguhkan artikel-artikel menarik lainnya.
Apabila ingin berkonsultasi atau curhat anda harus log in terlebih dahulu.

2.  psikologizone.com
Di situs ini ada dapat memposting artikel, opini, dan berita. Anda juga bisa menytakan pendapat atau komentar, memberikan rating di setiap posting, mengirim pesan ke anggota lainnya, dan disediakan pula pendapat dari pakar Psikologi. Sebelum anda log in ketika ingin berkonsultasi, anda harus mengisi sebuah formulir bahwa anda dianggap menyetujui Terms of Service (TOS).

Ada juga situs lain www.tanyapsikolog.com yang menyediakan layanan konsultasi gratis dengan psikolog


Sumber: www.e-psikologi.com
               www.psikologizone.com

Wednesday, October 26, 2011

Menganalisa Seseorang melalui Jaringan Sosial

Banyak sekali jaringan sosial (social network) yang ada sekarang-sekarang ini. Dengan jaringan sosial semua orang yang ada di dunia ini dengan mudah dapat berteman, berjualan, bahkan berpacaran disini. Salah satu contohnya adalah "twitter" (www.twitter.com). Dalam penulisan ini saya akan mencoba menganalisa seseorang melalui jaringan sosial yang ia punya, yaitu twitter.
Sebelum mengomentari twitternya, saya sudah mendapat izin dari yang punya ;)

Kita lihat profile keseluruhannya...
 1. Dilihat dari profile picturenya
Gambar 1

Nova nama panggilannya, siswa berumur 16 tahun. Dia sosok perempuan yang senang bergaul, mempunyai banyak teman, menyukai hal-hal baru, ekspresif dan ceria.
Foto-foto yang lainnya:

Gambar 2


 

 
Gambar 3        
Gambar 4 


2. Dilihat dari nicknamenya
Gambar 5

Dia termasuk orang yang mencintai namanya karena nama panggilannya ditulis secara kapital dan ingin dengan cepat dikenal orang setiap kali membuka profilenya. Simbol kerlipan mata melambangkan bahwa ia mempunya jiwa yang ingin berteman dengan siapapun, mengajak pertemanan yang lebih dekat.


3. Dilihat dari description profilenya

Tulisan itu menggambarkan bahwa ia sedang merasakan kesedihan atau kekecewaan terhadap sesuatu.


4. Dilihat dari Location profilenya, "Perancis" haha mungkin agak lucu ya padahal sebenarnya dia tinggal di Indonesia dan berkebangsaan Indonesia. Mungkin karena dia menyukai negara tersebut atau mungkin hanya karena supaya terlihat lebih keren.

5. Dilihat dari background profilenya yang bergambar7 orang anak yang sedang beergandeng tangan (kartun). Menguatkan analisa saya bahwa dia perempuan yang senang bergaul, memiliki banyak teman, aktif dan ceria bukan?

6. Dilihat dari tweetsnya yang sudah mencapai 30.406 sampai saat ini, menandakan bahwa ia senang berbagi hal apapun, dari mulai apa yang sedang ia lakukan, dimana ia berada, mengupdate teman-temannya, dan informasi apa yang ingin dia ketahui.

7. Dilihat dari jumlah following(account yang ia ikuti)= 215, menunjukkan ia ingin mencari teman dan informasi sebanyak-banyaknya di jaringan sosial ini. followers(account yang mengikuti dia)=373, menunjukkan bahwa ia menarik untuk dijadikan teman emm atau mungkin pacar, banyak orang ingin mengetahui tentang dirinya.

Inilah yang bisa saya ungkapkan dan saya analisa dari jaringan sosial seorang siswi yang bersekolah di Jakarta.























Thursday, September 22, 2011

Kegunaan Internet


            Internet, kata yang tidak asing di telinga setiap orang, terutama para remaja yang senantiasa bergaul dengan mewahnya dunia yang berteknologi, mewah, dan praktis, Internet bisa didapatkan dimanapun kita berada, dengan bermodalkan telepon selular yang memiliki koneksi internet, internet dapat diakses dengan mudahnya melalui telepon selular dimanapun kita berada, atau jika tidak, di setiap sudut kota pasti terdapat sebuah warung yang menjual jasa internet atau yang biasa disebut dengan “warnet”, dengan adanya internet, akses atau jalan terhadap penyampaian informasi-informasi yang ada didunia ini dapat diambil dengan mudahnya seraya membalikkan tangan atau mengejapkan mata, banyak ilmu pengetahuan yang begitu melimpah disana. Internet kita kenal sebagai media penyaji informasi yang sangat luas, bebas dan sepertinya tanpa aturan. Informasi yang disajikan bahkan sangat beragam. Sepertinya, informasi apapun yang kita inginkan, internet mampu menyediakannya. Manfaat internet bisa sangat beragam bagi setiap user (pengguna). Bagi seorang pebisnis, informasi yang dicari di internet mungkin akan sangat berbeda dengan seorang siswa atau mahasiswa.
             Untuk pebisnis, internet bisa digunakan untuk transaksi online, berkomunikasi dengan relasi yang ada di luar negeri dengan menggunakan VOIP (Voice Over Internet Protocol), email, atau sekedar text chat saja. Mencari informasi tentang peluang-peluang bisnis baru yang mungkin bisa dikembangkan.
             Untuk siswa atau mahasiswa, banyak sekali portal yang menyediakan media untuk pengembangan ilmu pengetahuan mereka. Seperti ilmu komputer, e-edukasi, dan masih banyak lagi. Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Seorang mahasiswa dapat mengakses berbagai referensi, baik yang berupa hasil penelitian, maupun artikel hasil kajian dalam berbagai bidang. Mahasiswa tidak lagi harus secara fisik pergi ke perpustakaan untuk mencari berbagai referensi sebab internet merupakan perpustakaan yang terbesar dari perpustakaan yang ada dimanapun (Kitao, 2002).
Seseorang tidak perlu lagi hadir di ruang kelas untuk mengikuti kegiatan pembelajaran/perkuliahan. Cukup dari tempat-tempat masing-masing yang dilengkapi dengan komputer dan fasilitas sambungan internet. Dengan dukungan fasilitas yang demikian ini, kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan. Artinya, peserta didik dapat berinteraksi dengan sumber belajar, baik yang berupa materi pembelajaran itu sendiri maupun dengan dosen yang membina atau bertanggung jawab mengenai materi pembelajaran. Kebebasan peserta didik untuk kuliah secara tatap muka maupun melalui internet telah dilaksanakan di beberapa perguruan tinggi di Kanada.
Pembelajaran melalui internet dapat diberikan dalam beberapa format (Wulf, 1996), diantaranya adalah:
a)   Electronic mail (delivery of course materials, seniding in assigment, getting and giving  
      feedback, using a course listserv., i.e., electronic discussion group),
a)   Bulletin boards/newsgroups for discussion of special group,
b)   Downloading of course materials or tutorials,
c)   Interactive tutorials on the Web,
d)  Real time, interactive conferencing using MOO (Multiuser Object Oriented) systems or Internet Relay Chat.
 
              Mencari lowongan pekerjaan di dalam ataupun diluar negeri, sekedar membagi informasi tentang hobi kita, mencari tahu tentang resep masakan, bahkan hingga memanfaatkan media internet untuk mempublikasikan perusahaan kita, memanfaatkan internet sebagai sumber ekonomi kita dengan mengikuti program afiliasi misalnya.
Dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah. Data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat. Internet membentuk masyarakat baru yang beranggotakan para pengguna internet dari seluruh dunia. Dalam komunitas ini pengguna internet dapat berkomunikasi, mencari informasi, berbelanja, melakukan transaksi bisnis, dan sebagainya. Karena sifat internet yang mirip dengan dunia kita sehari-hari, maka internet sering disebut sebagai cyberspaceatau virtual world (dunia maya).
             Teknologi internet sebagai media yang multirupa. Komunikasi melaui internet bisa dilakukan secara interpersonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara masal, yang dikenal dengan one to many communication (Misalnya mailing list). Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metode konvensional dengan adanya aplikasi teleconference. Berdasarkan hal tersebut maka internet sebagai media pengajaran mampu menghadapkan karakteristik yang khas, yaitu sebagai media interpersonal dan massa, bersifat interaktif, memungkinkan komunikasi secara sinkron dan asinkron (tunda). Karakteristik ini memungkinkan peserta didik melakukan komunikasi dengan sumber ilmu secara lebih luas bila dibandingkan dengan hanya menggunakan media konvensional.
            Mencuri di internetpun sudah bukan menjadi sesuatu yang langka disana.

Perkembangan IPTEK, terutama teknologi internet semakin hari semakin maju saja. Dan tidak hanya remaja ataupun orang-orang dewasa yang mempergunakannya. Banyak sekali anak-anak di bawah umur bahkan anak yang belum bisa membaca sekalipun yang sudah dibekali teknologi internet oleh orang tuanya. Harapan saya untuk internet untuk kemajuan selanjutnya adalah:
1. Supaya sistem jaringannya lebih diperketat/diperkuat agar tidak ada tindakan cybercrime, yaitu: kejahatan yang di lakukan seseorang dengan sarana internet di dunia maya yang bersifat melintasi batas negara, perbuatan dilakukan secara illegal, kerugian sangat besar, sulit pembuktian secara hukum. Seperti Hacking – Usaha memasuki sebuah jaringan dengan maksud mengeksplorasi atupun mencari kelemahan system jaringan. Cracking – Usaha memasuki secara illegal sebuah jaringan dengan maksud mencuri, mengubah atau menghancurkan file yang di simpan padap jaringan tersebut.
2. Supaya para produsen ‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses. Agar terantisipasi informasi tentang pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
3. Gambar-gambar yang seronoh sebaiknya dihapus/dihilangkan